Karya-karya Puisi Dhep


KEPADA FAJAR

Kepada fajar
Yang bersinar
Kekasih, sampaikan cerita
Tentang pelukan di malam gulita

Kepada fajar
Yang berkobar
Kekasih. pagi tak mengerti
Perjalanan penuh arti

Kepada fajar
Yang membakar
Kekasih, katakanlah. Kita tinggal rangka
Karena waktu telah menawar luka

REMBULAN NAN CANTIK

Rembulan nan cantik, angkasamu pilu
Di hatinya: musim gugur menyapu bunga bermekaran,
Awan menawan berubah kelabu
Dan butir matanya terbendung ciptakan hujan

Rembulan nan cantik, angkasamu merapal doa
Menadahkan tangan berharap penuh asa:
Hujan dari matanya hadirkan cerita lama
Tentang bidadari mandi di telaga.

GADIS MANIS

Sore menguning, rapuh di atas kapal berlabuh
Damai runtuh, ombak gemuruh
Gadis manis menghampiri
Mengusir sepi berkawan di ujung hari

Gadis memejam mata di dekat pagar
Berpijak di sela cakrawala samar
Membuka mata perlahan
Berkata: “Aku terbang melintas awan”

Gadis berpegang tangan, bertatap mata
Memenuhi hasrat, menggebu di pelupuk senja
Berpeluk mesra
Berdua menuju surga.

DI HATIKU ADA BUNGA-BUNGA

Senja tersipu malu
Tersenyum kala angin merayu-rayu
Raja siang pun pipinya semakin merona
Menyapa si cantik rembulan terbangun dari lelapnya

Ada yang tertanam dari malam
Bertumbuh hingga berkembang
Melalui sunyi temaram
Kekasih berkasih sayang

Di hatiku ada bunga-bunga
Dari serbuk kasihku yang menempel pada kepala putik cintamu
Di hatiku ada bunga-bunga
Dari benih-benih asmara yang tertanam di relung hatimu.

MERAJAM SUKMA

Jelajahi mimpi pada elok rupa mentari
Dicari, akhirnya takdir merajam sukma sendiri
Bagai burung dalam sangkar
Mimpi terus mengakar
Dirantai hingga lunglai

Aku mengutuk suara alam di ranjang rembulan yang sekarat
Dengan air mata langit, menyayat
Menyisakan karat
Merapuh, mendebu, melayang-layang
Menghilang
Tiada pulang.

SELINTAS KHAYAL

Dihatiku:
Bumi mematung, langit terbendung dan mendung merundung
Awan merapuh, hujan terjatuh dan petir berlabuh
Angin halai-balai, ranting terkulai dan maut membelai

Selintas khayal penuh aral
Dahaga terjegal
Aku terpenggal
Oleh azal.

ROSACEAE

Rosaceae, kudekap kusayang
Melalui daun bergoyang
Mahkotamu terpandang dan terbayang
Aku melayang
Hingga lupa sembahyang

Rosaceae, masih kudekap kusayang
Kucium wangimu, menyemerbak di hari bertualang
Berlalu-lalang
Sudah cukup, mari pulang
Malam mulai menjelang

Rosaceae, tiada lagi kudekap kusayang
Tangkai cintamu layu kupandang
Biar badai mengadang
Mentari dan rembulan tak berdendang
Aku takkan meradang.

BIANGLALA

Bianglala lambaikan tangan
Mengedipkan sebelah mata di antara lembayung dan redanya hujan
Kulihat, senyumnya menembus jendela
Dibuai bujuk rayunya, aku bernyanyi. Oh lalala ...

Bianglala memerah pipinya
Kudekati dengan setangkai bunga
Bersandar aku pada tiang
Berharap dia tidak pulang

Bianglala menutup mata
Disapu mentari hendak tiada
Asmara berkobar
Ditinggal sepi warna memudar.

DI MATAMU

Di matamu, aku tak berkata
Dengan isyarat tatapan mata
Aku mengajakmu ke surga
Dicipta kita berdua

Di matamu, hilang dunia
Dengan cara tak pernah kita cipta
Di puncak rasa
Mabuk kepayang aroma surga

Di matamu, aku mengecup kening purnama
Kurangkul suara desah asmara melanda
Kupeluk tubuh hangat, senantiasa ada
Sampai akhir hayat tiba

Ade Pratama. Bernama pena Dhep. Lahir di Bogor, 9 Maret. Kontak: instagram @dhep936.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *