Karya Puisi Ahcmad Ridwan Palili

RUMAH DI UJUNG JALAN

Mungkin aku punya alasan menghina orang
Sewajarnya pula aku berlaku sombong
Berkicau, menari mendengung dengung
Beling tuli membingung
Nyanyian usai di lereng gunung

Mungkin aku harus bertanya pada musafir
Baikkah aku, santunkah aku, saat kuambilkan air?
Ah, tidak!
Ambillah di belakang rumahku. Disana empedu mengalir
Bersama darah, nanah, aroma anyir
Bekas bantaian ayah tiriku pada selir-selir
Tapi jangan khawatir
‘Kan kubagi souvenir

Hei, kamu! Hei para musafir Jordan
Singgahlah sejenak melempar joran
Beradu panco dengan si jeroan
Menari bersama pelayan raja ottoman
Aku dewanya, kau jadi korban
Semua lengkap …
Di rumah di ujung jalan

LANGIT SENJA SEBELAH

Gemuruh badai menyentak sepasang bangau putih yang sedang bercinta
Menerbangkan kabut asmara katak-katak birahi
Mandikan ikan cupang yang digedor gelora rindu mesra
Rerumputan saling berdekapan

Di kaki langit sepertiga barat daya
Simponi alam tiba-tiba terhenti
Tak ada yang bercumbu
Tak ada sayang yang terserak

Di sini lembayung merah muda merona lembut
Di sana kabut hitam sesak lakasana selimut
Mungkin dunia bermatahari dua
Kalau tak, mengapa langit senja sebelah?

BULAN SETENGAH JADI

Bila kawah terjamah kasat
Dan cahayamu menyapa alam
Ku tetap mergukanmu
Adakah bulan yang prematur?

Saat rupamu jelas tergaris
Pewaris tunggal takhta malam
Di mataku tak ada yang istimewa
Mungkinkah bulan sakit polio?

Ah!
Mungkin saja

PUTRI MEGA

Langkah anggun lambat tersendat
Ayu nian lenggok memimpi
Putih berseri, sarat embun sejukkan hati
Terkadang dalam rupa kelinci
Terkadang dalam bentuk angsa putih
Membingungkan hati
Banyak wujud kau rupakan
Jadi selimut cakrawala
Bulu lembut ‘tuk dunia

MIMPI DALAM SAJAK BULU ROMA

Senandung malam yang sarat damai, namun tiada menjanjikan damai dan rasa aman
Embusan angin dingin sepoi seakan merajai kehangatan
Aroma basah menguar bersama embun yang mulai menetes

Namun jauh di dalam sana …
Kepala bertanduk, mata nyalang dan cengkeraman menggerapai
Seakan gusar berurat nadi
Letih menanti, sabar menunggu
Letih berdiri, pantang terduduk
Menanti …

Jauh kau di pelosok negeri, seberang gurun dan samudra
Namun tak ayal, aroma tubuhmu tercium olehnya
Bersembunyi di balik batu karang, di dasar lembah, antara palung laut nan dalam
Degub jantung, desah napasmu terasa olehnya

Kau memimpi terbang bersama para malaikat
Menghayal jauh sesat, menggesek dua dunia yang berbeda
Membuka portal keluar masuk bangsamu dan bangsanya
Kau jadi sandera …
Bimbang, ragu, risau, gelisah dan dilema
Tak sempat berakhir, berujung, namun selalu mengekor
Dengan beribu buntut ketakutan
Kalut, gemetar seketika timbul tenggela, dalam raga
Memaksa lari, kaki terbelenggu
Ingin bangkit, sesosok tubuh menindih kuat
Mencekik …

Kau masih bisa mereka-reka
Di ujung sadar yang tak habis
Menjalur alur berjurang
Bagaimana tenggorokan dan kerongkonganmu putus
Dalam cengkeraman jari kuku yang seakan bukan jari tanagan
Bagaimana naafasmu jeda tuk selamanya
Bagaimana seringai senyumnya
Bagaimana hasrat ingin membunuhnya
Dan bulu-bulu roma meremang, berdiri, bangkit, berduri, melancip
Dan terbangun dalam keringat yang bersimbah asin

TETESAN DARAH

Menyimpanglah dari jalan setapak wahai pengelana
Sibak dengan pedang setengah abad semak belukar
Jangan hiraukan anggur hitam di sisi matamu
Ikutilah aroma manis yang memanggil-manggil

Pandang ruas rerumputan ular kembar
Carilah tetesan darah kering menghitam
Di ujung atau pangkalnya

Jalan terus …
Hingga darah kering jadi basah
Sobek karung goni, usap dengan mesra
Jilat, rasakan kehadiran malaikat maut
Tantang hantu tak bernama itu
Hunus pedang, baca mantra
Kalungkan jimat dukun pulau seberang
Hentak, pasang banteng-banteng
Serang, bunuh, makan mentah-mentah
Minum darah merah, teguk dengan sebat
Pulang, susuri jalan yang tadi kau lalui
Buat tetesan darah baru

POTRET BERDARAH

Saat dian-dian padam di sepanjang koridor
Kelelawar kembali berpesta
Menari dingin dalam kelam
Bersama malam

Potret samping jendela tak berdaun itu
Seakan mengerti apa yang terjadi
Setelah malam berpusar dalam lonceng
Bersama tengkorak yang terserak di bawahnya

Potret samping jendela tak berbingkai itu
Seakan melihat apa yang terlukis di sisinya
Lukisan darah yang terciprat seratus tahun silam
Lukisan tentang pembantaian missal

Potret samping jendela tak berkaca itu
Menjadi korban dan saksi bisu
Yang menatap nyalang, lepas terjang
Potret itu berlumuran darah
Tak sudi mengenang prahara
Saat tubuh indahnya di gerayangi

LUKISAN YANG BERBICARA

Masuklah bersama kakimu yang bersalju
Biarkan bekas pijakmu abadi di lantai berdebu
Raba, pandang, rasakan sensasi masa lalu
Terka, jangan cari bukti palsu

Naiklah di altar berputar
Menuju menara kosong tak berpusar
Raba, pandang, rasakan dindingnya yang kasar
Terus, cari dengan sabar
Tengoklah bekas-bekas perjamuan
Pernikahan ksatria tampan dengan gadis kerajaan
Sarat kesan
Abadi dalam sebuah lukisan
Tanya lukisan itu
Usap
Pikirkan
Lalu pergi dari situ
Hingga bibir merah merona, indah merekah
Di hadapanmu berseru “Siapa kamu?”
Jawablah dengan jujur …
“Akulah penjaga museum baru”

SAAT MUTIARA HITAM DILILIT INTAN

Cangkang-cangkang terserak di lubuk laut
Ikan arwana dan piranha tegang bertaruh
Cangkang siapa yang berbentuk kipas itu?
Apa yang menggelinding saat hiu menderu
Bercahaya, menyilaukan, bersanding dengan kelam

Cangkang-cangkang terserak jadi karang
Bintang laut dan udang rindu memeluknya
Cangkang siapa yang ada dalam pelukan ketam?
Apa yang terpental saat paus tak sengaja menyenggol?
Hitam, bulat, bersanding dengan batu di punggung laut

Cangkang-cangkang terserak jadi bara yang terpendam
Alat dan mesin sibuk berputar mengebornya
Cangkang siapa yang hancur lebih dulu?
Dimana mutiara-mutiara hitam harta lautan?
Kulit pucat, rambut pirang, mata sipit, bibir tebal merengkuhnya

Cangkang-cangkang terserak rapi dalam akuarium
Batu dan ikan warna tak menggubrisnya
cangkang siapa yang tertulis dalam sejarah dan literature
Adakah yang termuat majalah Times bulan lalu?
Inilah saatnya mutira hitam di lilit intan

PERI KECIL KESEPIAN

Jamur merah bertotol putih
Berkerut, tergenang embun manis
Bokong mungil bertakhta di atasnya
Bersama sayap tak kasat mata
Air berkilau dari sepasang mata jamrud
Bibir mungil senyum mendongak
Rona pipi terbang keluar angkasa
Ratapnya di dengar kelinci hutan
Sedang pesta buah beri tak kunjung usai

Oh …
Ajaklah ia bersamamu
Sebelum jamur merah di kunyahnya
Dan mati dalam cahaya yang berpendar
Samar…

Ahcmad Ridwan Palili. Anak ke-12 dari 13 bersaudara. Lahir di Maros, 30 Maret 1998. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar dengan konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris. Mulai aktif menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tulisan-tulisan hasil karyanya berupa puisi, cerpen, essai dan sementara sedang berjuang untuk merampungkan novel pertamanya. Gemar membaca dan menggambar. Bercita-cita menjadi seorang perancang busana muslim dan seorang penulis sastra yang produktif dalam berkarya. Kontak: Nomor telepon 083892973672, Facebook Ahcmad Ridwan Palili, fanspage Goresan Pena Ridwan Palili dan email thekingdomofpalili13@gmail.com.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *