Puisi Terbaru Karya Tama

Puisi Terbaru Karya Tama

BAYANGMU MENJELMA HUJAN

Cahaya
Di tirai jendela
Mencemeti kemarau
Bernada parau

Di kota mati, terang kabut mencekik bulan
Prosa dawai layla tak dilantunkan
Bayangmu menjelma hujan
Menjajah kerinduan

Rindu membatu di kalbu
Bayangmu berlalu di pelukan sang bayu

KARENA CINTA

Karena cinta
Manakala gelap, aku serupa lilin
Kau mengais caya
Dari tubuhku yang terbakar

PRAU

Pagi, siang dan malam
Sepanjang jejak, angin mengukur jarak
Esensimu menggema, eksistensi Maha Raja

Rindu bersandar di antara tarian cemara
Seketika nyanyian alam memudarkan duka

Prau, sampaikan padanya
Cintaku membiru laksana langitmu
Cintaku memutih laksana awanmu.

NOKTURNAL

Kutulis memoar sunyi dari karat senja
Cintaku terlelap jauh
Kujemput di mimpi
Saat jantung malam berdetak, tanah belum kerontang

Embun ini adalah pagimu
Bagiku isyarat menjelma senja
Senjamu adalah pagiku
Bagiku isyarat menjelma embun

Andai aku dapat menyihir hidup
Kubungkam seribu mantra pagi
Walaupun hujan dan matahari
Telah menjadi pelangi.

SUNYI ADALAH KAWAN SEJATI

Pelipur terkubur
Tersisa kenangan
Cintanya pupus, padaku kembalilah sunyi
Sunyi adalah kawan sejati

Keluh berpeluh, kesah meresah
Terpendam di dada
Kularut dalam puisi, kuteguk bersama sunyi
Sunyi adalah kawan sejati

JURNAL 26

Dari alur bermula tanpa candala
Jauh nun, namamu nirmala membias cakrawala
Dalam celah belukar, kau menawar kelakar
Merupa bunga yang mekar

MERANGKAI KISAH

Pada candramawanya hari
Sepanjang jalan aku melahap sunyi
Sebab kasih dalam kisah
Menjadikan kalbu berbuah rindu

CINTAKU

Dari seribu cerita cinta
Aku seperti terbenam di ufuk barat
Sebab puisiku adalah langit mendung
yang menjadi pertanyaan, akankah hujan?
Cintaku masih menyala dalam dada
Menunggu pertanyaan menjadi tiada

MISTERI

Kasih, kita seperti berlayar di samudera
Berdua mengarungi, berlabuh di tempat yang sama
atau sebaliknya

KEPADA FAJAR

Kepada fajar
Yang bersinar
Kekasih, sampaikan cerita
Tentang pelukan di malam gulita

Kepada fajar
Yang berkobar
Kekasih. pagi tak mengerti
Perjalanan penuh arti

Kepada fajar
Yang membakar
Kekasih, katakanlah. Kita tinggal rangka
Karena waktu telah menawar luka

REMBULAN NAN CANTIK

Rembulan nan cantik, angkasamu pilu
Di hatinya: musim gugur menyapu bunga bermekaran,
Awan menawan berubah kelabu
Dan butir matanya terbendung ciptakan hujan

Rembulan nan cantik, angkasamu merapal doa
Menadahkan tangan berharap penuh asa:
Hujan dari matanya hadirkan cerita lama
Tentang bidadari mandi di telaga.

GADIS MANIS

Sore menguning, rapuh di atas kapal berlabuh
Damai runtuh, ombak gemuruh
Gadis manis menghampiri
Mengusir sepi berkawan di ujung hari

Gadis memejam mata di dekat pagar
Berpijak di sela cakrawala samar
Membuka mata perlahan
Berkata: “Aku terbang melintas awan”

Gadis berpegang tangan, bertatap mata
Memenuhi hasrat, menggebu di pelupuk senja
Berpeluk mesra
Berdua menuju surga.

DI HATIKU ADA BUNGA-BUNGA

Senja tersipu malu
Tersenyum kala angin merayu-rayu
Raja siang pun pipinya semakin merona
Menyapa si cantik rembulan terbangun dari lelapnya

Ada yang tertanam dari malam
Bertumbuh hingga berkembang
Melalui sunyi temaram
Kekasih berkasih sayang

Di hatiku ada bunga-bunga
Dari serbuk kasihku yang menempel pada kepala putik cintamu
Di hatiku ada bunga-bunga
Dari benih-benih asmara yang tertanam di relung hatimu.

MERAJAM SUKMA

Jelajahi mimpi pada elok rupa mentari
Dicari, akhirnya takdir merajam sukma sendiri
Bagai burung dalam sangkar
Mimpi terus mengakar
Dirantai hingga lunglai

Aku mengutuk suara alam di ranjang rembulan yang sekarat
Dengan air mata langit, menyayat
Menyisakan karat
Merapuh, mendebu, melayang-layang
Menghilang
Tiada pulang.

SELINTAS KHAYAL

Dihatiku:
Bumi mematung, langit terbendung dan mendung merundung
Awan merapuh, hujan terjatuh dan petir berlabuh
Angin halai-balai, ranting terkulai dan maut membelai

Selintas khayal penuh aral
Dahaga terjegal
Aku terpenggal
Oleh azal.

ROSACEAE

Rosaceae, kudekap kusayang
Melalui daun bergoyang
Mahkotamu terpandang dan terbayang
Aku melayang
Hingga lupa sembahyang

Rosaceae, masih kudekap kusayang
Kucium wangimu, menyemerbak di hari bertualang
Berlalu-lalang
Sudah cukup, mari pulang
Malam mulai menjelang

Rosaceae, tiada lagi kudekap kusayang
Tangkai cintamu layu kupandang
Biar badai mengadang
Mentari dan rembulan tak berdendang
Aku takkan meradang.

BIANGLALA

Bianglala lambaikan tangan
Mengedipkan sebelah mata di antara lembayung dan redanya hujan
Kulihat, senyumnya menembus jendela
Dibuai bujuk rayunya, aku bernyanyi. Oh lalala ...

Bianglala memerah pipinya
Kudekati dengan setangkai bunga
Bersandar aku pada tiang
Berharap dia tidak pulang

Bianglala menutup mata
Disapu mentari hendak tiada
Asmara berkobar
Ditinggal sepi warna memudar.

DI MATAMU

Di matamu, aku tak berkata
Dengan isyarat tatapan mata
Aku mengajakmu ke surga
Dicipta kita berdua

Di matamu, hilang dunia
Dengan cara tak pernah kita cipta
Di puncak rasa
Mabuk kepayang aroma surga

Di matamu, aku mengecup kening purnama
Kurangkul suara desah asmara melanda
Kupeluk tubuh hangat, senantiasa ada
Sampai akhir hayat tiba

Tama. Bernama lengkap Ade Pratama. Lahir di Bogor, 9 Maret. Kini ia menetap di Lebak, Banten.
Kontak: Instagram @dhep936 dan whatsapp 083831317070.

Belum ada Komentar untuk "Puisi Terbaru Karya Tama"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel